Jalan itu penuh dengan pengemis. Sehingga, aku selalu merasa risih untuk memperlihatkan bagian kota itu kepada tamu-tamuku yang mengunjungiku. Jalan Pasteur, namanya. Sebuah jalan protokol, gerbang kota Bandung, yang selalu menjadi pembicaraan orang ketika datang ke Bandung. Jalan Pasteur telah menjadi pilot project kota Bandung dalam hal mengimplementasikan UU K3 yang telah diratifikasi sejak beberapa tahun yang lalu. Mestinya, pengemis-pengemis itu tidak dapat dengan leluasa berkeliaran di sana, seakan-akan menyambut tamu kota Bandung, dan berteriak lantang, "Hai, Selamat Datang di Kota Bandung! Cepek Pak!".
Dilematis memang, memberi atau tidak memberi adalah sebuah pilihan. Ketika tangan menengadah, ada sebuah harapan yang tergambar di sana. Sebuah relik yang tak lekang, karena meminta dan memberi adalah sebuah proses yang sama tuanya dengan sang pertiwi. Masalah kemudian muncul ketika kita dihadapkan pada sebuah tanggung jawab moral untuk melakukan justifikasi pada penegakan pranata sistem dan empati. Sebuah pilihan yang tak henti diperdebatkan, lebih baikkah memberi ataukah tidak.
Namun saya percaya pada ajaran bahwa memberi dengan cuma-cuma hanya akan menciptakan bangsa yang lemah, tidak produktif, dan bermental budak.
Monday, April 23, 2007
Tangan yang Menengadah
Tuesday, March 20, 2007
Kontemplasi
Tidak banyak yang bisa kulihat, ketika tidak ada keinginan untuk itu. Tidak banyak yang dapat kuraih, walau sebenarnya aku telah menetapkan dimensi gerakku. Telunjukku sebenarnya telah dapat menetukan arahnya, kurasakan hal itu. Sering aku mengangguk sendiri, membenarkan isi hatiku. Namun terkadang aku ragu, apakah aku telah berjalan ke arah yang benar, mengikuti arah telunjukku.
Caka yang satu berakhir, yang lain berawal kembali. Saatnya, kurasakan. untuk merenungi itu semua. It's about my determination!, sering aku berteriak. So what? Ya, begitulah, waktu terus berjalan, habis, dan tanpa apa-apa. Namun, sering kali cinta membisikkan kata-katanya kepadaku, "Kau tidak punya waktu untukku!". Itu mungkin benar. Aku sadar bahwa aku termasuk orang yang tidak pernah mau menolak tanggung-jawab yang disodorkan kepadaku. Implikasi yang lantas timbul setelah itu seharusnya kusadari sepenuhnya. Namun kadang-kadang aku lupa untuk berandai-andai. Memang, kadang-kadang aku tidak punya imajinasi, begitu kata cinta.
Aku sempat berpikir, apakah aku memerlukan resolusi ataukah tidak. Karena kembali, telunjukku terus mengarah pada egoku. Kalau berbicara tentang benar atau salah, terkadang aku selalu memandang hal sebagai cinta yang hitam atau putih. Tak ada gradasi warna di sana. Tak ada titi nada sumbang. Yang ada adalah tonggak angkuh yang menunjuk ke arah kepalaku, terang, sempurna. Anehnya, aku selalu menyodorkan gradasi nada pada cinta. Aku tahu hal itu tidak fair. Tapi itulah aku.
Apakah aku memerlukan resolusi tahun baru? Mungkin tidak perlu. Namun aku mungkin tahu, hal itu muncul dalam ranah kesadaranku karena aku sering kali berubah menjadi defensif ketika keadaan membuatku terpojok. Apakah aku memerlukan resolusi tahun baru? Entah!
Yang pasti, aku tahu bahwa aku harus lebih baik di Caka yang akan datang. Pelahan, aku harus mengangkat bintangku dan menempatkannya di tempat yang mudah kulihat, yang pada gilirannya, akan selalu kuingat.
Monday, March 19, 2007
Terganggu
Akhir-akhir ini aku sering kali terganggu oleh hal-hal kecil. Tidak mudah memang untuk mengalokasikan berbagai masalah di kepalaku yang sudah penuh dengan berbagai masalah. Entah, mungkin karena tugas yang berjubel datang kepadaku membuatku seakan meledak. Aku mudah tersinggung, dan terkadang marah tak beralasan.
Akhir-akhir ini, Patricia sering menepuk bahuku, berbisik di telingaku, "Har, kau mudah marah!". Kalau sudah begitu, aku lantas terdiam, dan berusaha berkontemplasi. Tapi tidak mudah. Sering kali egoku muncul, dan mendadak memposisikan diriku sebagai orang tertindas.
Asap pembakaran sampah yang sore tadi memenuhi rumahku membuatku mendidih. Konsentrasiku hilang, padahal aku harus mempersiapkan soal-soal untuk ujian PTK besok. Kugelengkan kepalaku, dan mencoba untuk mengusir rasa amarahku.
Grrrhhh....!
Tuesday, October 03, 2006
Mengajar Monyet

Tidak banyak yang kita bisa dapatkan hanya dengan berusaha seadanya dalam mencoba membuka mata seorang yang telah tertutup hatinya. "Seperti mengajar monyet!", temanku pernah berkata kepadaku. Mengapa? Monyet tidak akan pernah pintar, dan kita hanya akan mendapatkan capeknya saja. Syukur-syukur kalau hanya capek. Bagaimana kalau capek itu disertai dengan naiknya tekanan darah dan mendidihnya ubun-ubun? Weleh!
Hal itu yang aku dengar beberapa waktu yang lalu. Temanku, katakanlah namanya Doug, memiliki tetangga yang sedang membangun rumah di sebelah rumahnya. Awalnya sih tidak terjadi apa-apa. Tetapi ketika rumah tersebut setengah berdiri, barulah Doug menyadari bahwa rumah itu akan menjadi rumah bertingkat yang akan menutupi matahari yang selama ini dapat dinikmatinya sepanjang hari. Lantas ia mendatangi tetangganya, dan bertanya akan hal itu. Apa yang didapatinya? Tetangganya hanya bilang bahwa, "Ini adalah property saya, dan saya bebas melakukan hal apa saja dengan property saya!"
Tidak dapat disangkal lagi, tentu Doug merasa sangat tidak nyaman dengan jawaban yang sangat bersahabat seperti itu. Doug pernah berbicara kepada saya, bahwa ia hanya ingin berdiskusi tentang masalah ini, dan kalau bisa secara bersama-sama melakukan sesuatu sehingga rancangan rumah dapat dimodifikasi sedikit sedemikian rupa sehingga berkah matahari akan diperoleh bersama-sama secara optimal.
kebetulan, istri Doug adalah seorang asing dari Eropa, yang jika hak-haknya dilanggar akan bereaksi dengan keras. Sang istri kemudian berusaha untuk berbicara dengan si tetangga dengan baik-baik. Apa yang diperolehnya? Cacian tak bermalu, "Ini bukan Eropa, ini Indonesia! Pulang kau ke rumahmu!".
Aku yang prihatin, hanya bisa menyabarkan Doug dengan membeikan jurus "monyet" tadi. Mengajar monyet untuk berdiskusi memang tidak mudah.
Thursday, April 13, 2006
Taksi oh Taksi
Simak sebuah artikel tentang bagaimana pengemudi taksi Bandung menunjukkan betapa tidak profesionalnya dan sangan kekanak-kanakannya mereka. Aku hanya berpikir:
- Di mana hakku sebagai pengguna taksi yang menginginkan kenyamanan di Bandung?
- Masih haruskah aku terus menarik urat leher dengan para pengemudi taksi yang semena-mena menetapkan tarif?
- Masih haruskah aku terus berdebat dengan para pengemudi taksi agar mereka mau menggunakan argometer?
- Masih haruskah aku terus was-was apakah taksiku datang menjemputku?
Sebelum Blue Bird datang ke Bandung, sudah bukan rahasia lagi bahwa pelayanan taksi Bandung adalah pelayanan amburadul yang sangat menjengkelkan hati. Hatiku geram ketika melihat sepenggal berita:
Blue Bird dirusak
Dihubungi secara terpisah, General Manager Blue Bird Bandung, Adjat Sudradjat, mengatakan, dua armada taksi BB yang terjebak dalam aksi demo di Jln. Padjadjaran dan Jln. Asia Afrika, dirusak massa. Akibatnya, taksi dengan nomor unit UD 178 dan UD 150, mengalami kerusakan. “Kaca belakang dan depan pecah, bodinya juga rusak. Tapi sopir kami tidak apa-apa,” katanya. Kejadian tersebut, menurut Adjat, telah dilaporkan ke Polwiltabes Bandung dan saat ini tengah diproses. Kendati demikian, BB masih tetap beroperasi seperti biasa. (A-157/A-159)***
Kapan para pengemudi taksi dan para pengusaha taksi di Bandung bisa lebih profesional? Entah!