Monday, June 23, 2008

Abadinya Perubahan

Pengalamanku beberapa kali terakhir ini bersama anak-anak HIMATEK ITB membuat aku lebih yakin akan integritas mahasiswa kita yang masih memiliki idealisme yang mungkin merupakan ide maya bagi beberapa pihak. Hasil monumental yang telah mereka perlihatkan kepadaku membuatku dapat bertepuk dada, dan tidak dapat dipungkiri bahwa kerja yang telah mereka lakukan adalah kerja besar.

Dimulai sejak setahun lalu, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia ITB yang tergabung dalam HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) mulai bergerak. Ide itu datang begitu saja, menyediakan air bersih bagi masyarakat yang membutuhkannya. Dari berbagai riset dan studi yang layak untuk dihargai, dipilihlah masyarakat Kampung Nunukan di Cililin. Kampung ini berada persis dekat danau Saguling, sehingga sebenarnya mereka memiliki persediaan air yang melimpah, namun air yang tersedia tidak dapat digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. Air waduk Saguling ini keruh berwarna hijau karena lumut yang tersuspensi di dalamnya. Dana yang dikumpulkan dari sana-sini telah tersedia. Negosiasi dengan Dr. I Gede Wenten, seorang pakar membran dari Program Studi Teknik Kimia ITB berhasil mendapatkan sebuah unit penghasil air bersih secara gratis. Dan kerja keraspun dimulai. Persis setahun yang lalu, sebuah pipa air sepanjang 200 m ditarik dari tengah danau. Sebuah pompa air berbahan bakar diesel dipasang di atas dermaga apung, digunakan untuk menarik air dari tengah danau ke Kampung Nunukan. Air tersebut ditampung dalam sebuah bak penampung. Dengan unit permurnian air berbasis teknologi membran, air kotor ini dibersihkan dan air bersih itu ditampung pada menara air berkapasitas 3 m3 untuk didistribusikan ke seluruh warga kampung Nunukan.

Kerja ini tidak berhenti di sini saja. Tidak!. Para mahasiswa ini meneruskan kerjanya di daerah lain. Sebuah unit yang identik saat ini telah berdiri di masyarakat Kampung Manteos, masyarakat di tepian sungai Cikapundung yang airnya telah terpolusi. Proficiat!.

Tidak! Mereka tidak berhenti sampai di sana. Mereka saat ini sedang sibuk mengadakan penyuluhan kepada masyarakat Ciparay tentang bagaimana cara menanam padi dengan metoda SRI (System of Rice Intensification). Pada kesempatan itu, mereka juga melakukan penyuluhan bagaimana cara membuat kompos dari sampah organik.

Ketika mahasiswa lain melakukan demo yang tidak jarang bersifat anarkis (cek: Riri Audiya, Youtube, Mertanus, Pintunet, Putu Sundika, dll), anak-anak Teknik Kimia ITB lebih memilih terjun langsung ke pokok masalah: meningkatkan harkat hidup masyarakat miskin. Cara ini adalah cara yang jauh lebih efektif dalam menyalurkan uneg-uneg sekaligus memberi ruang yang sangat luas pada idealisme yang masih terus bersemi di hati mereka. Siapa bilang mahasiswa ITB memble?

Cerita lengkap tentang:

Saturday, May 24, 2008

Thank God, Harga BBM Akhirnya Naik

Akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM. Harga 3 bahan bakar publik paling penting berubah sebesar 25-30%. Harga premium (gasoline) naik menjadi Rp 6000,-, solar menjadi Rp 5500,- dan minyak tanah menjadi Rp 2500,-. Aku mungkin salah seorang yang mendukung keputusan tidak populis ini. Harga BBM harus naik. Dengan naiknya harga BBM ini, tampaknya kita harus dituntut untuk berpikir secara realistik. Ya benar, bahwa keadaan sosio-ekonomi masyarakat Indonesia dewasa ini tidak terlalu menggembirakan. Namun kita harus melihat semuanya ini secara menyeluruh, ya menyeluruh.
Dengan naiknya harga BBM, anggaran pendidikan, kesehatan, dan pembangunan fisik relatif tidak akan (semoga) terganggu. Di samping itu, para peneliti kita dari Universitas dan Lembaga Penelitian akan lebih terpacu untuk berusaha mengintensifkan penelitian dalam energi alternatif (misalnya biofuel, atau... energi biru). Walaupun terdengar klise, dan sedikit agak terlambat, tidak ada salahnya kalau aku mengatakan bahwa, inilah saatnya para peneliti kita unjuk gigi. Indonesia adalah negara yang sangat berpotensi menjadi raja biofuel di dunia!
Yang lebih penting lagi, masyarakat akan menjadi tahu bahwa energi itu tidak murah.

Thursday, May 22, 2008

Harga BBM yang bermasalah, ataukah..?

Pagi ini aku berdiskusi dengan 3 orang mahasiswaku, yang sedang menyelesaikan tugas Rancangan Pabriknya. Mereka aku tugaskan untuk merancang sebuah pabrik hidrogen untuk bahan baku energi (untuk sel bahan bakar - fuel-cell) melalui reaksi reformasi kukus metanol atau etanol.
Setelah melakukan analisa ekonomi, energi listrik dari sel bahan bakar akan menguntungkan jika listrik dijual dengan harga Rp 1500-2000 per KWH. Dan hal itu tidak ekonomis jika dilakukan saat ini, di saat subsidi energi yang dialokasikan oleh pemerintah begitu besarnya, hingga mencapai 20% dari total anggaran belanja negara! "Hah, 20% pak? Yang bener aja?", mata mereka melotot tidak percaya menatapku.
Aku yakinkan pada mereka bahwa saat ini Pemerintah diambang kebangkrutan jika subsidi untuk energi dipertahankan sebesar itu. Pada artikel yang kutulis beberapa saat yang lalu (Protes Kenaikan BBM? Lho Kok?) aku menyebut beberapa angka fantastis tentang kenyataan ekonomi makro kita. Subsidi energi sebesar 187,1 triliun rupiah ini pasti akan membengkak seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Jika hal ini terjadi, yang dirugikan siapa? Yang pasti, negara ini tidak akan pernah maju dengan subsidi sebesar itu. Anggaran subsidi sebesar itu berkali-kali lipat lebih besar dari anggaran pendidikan nasional yang hanya sebesar 45,3 triliun! Aku awam dalam soal manajemen pengaturan keuangan, apalagi masalah pemerintahan. Tetapi hal yang kasat mata seperti ini mestinya bisa dilihat oleh orang-orang pintar di negeri ini, entah itu mahasiswa, maupun elite bangsa.
"Maaf Pak, jadi demo menentang kenaikan harga BBM itu salah, toh?", mereka berceletuk. Dari sudut pandang ini, ya salah, kataku. Program pembangunan dalam bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan kita yang sudah sangat buruk, akan semakin hancur lebur berantakan jika harga BBM tidak naik. OK, yang penting aku sudah memberikan cara pandang yang lain pada para mahasiswa, yang sumpah mati, baru tahu bahwa keadaannya seperti itu.
Jadi, aku sebenarnya heran membaca komentar Kwik Kian Gie yang seolah-olah tidak mengerti masalah ini. Apalagi statementnya yang entah dirujuk dari mana, tentang biaya produksi bensin per liter yang (katanya) hanya Rp. 650,-. Kita hitung-hitungan seperti orang bodoh ajalah.
Harga minyak mentah dunia saat ini $127 per barel (160 liter). Itu berarti Rp 7900 per liternya. Lha harga bahan bakunya saja sudah Rp 7900,- per liter, lantas bagaimana Kwik mau menjual bensin dengan harga seperti sekarang ini, Rp 4800,-? Apalagi dengan hanya Rp 650,-.
Rizal Ramli pada berbagai kesempatan menengarai bahwa kondisi masyarakat yang sudah miskin ini akan semakin diperparah dengan kenaikan harga BBM. Statement itu ada benarnya. Tetapi bukan berarti bahwa harga BBM tidak boleh naik. Menurutku, harga BBM harus naik. Jika tidak, negara ini akan bangkrut. Yang perlu dilakukan adalah, naikkan pendapatan rakyat miskin. Pemerintah harus memikirkan bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Well, pro-kontra kenaikan harga BBM tidak akan pernah berhenti. Tetapi, berpikir realistik akan jauh lebih baik dan, percayalah, menyejukkan hati.

Wednesday, May 21, 2008

Alasan untuk Berbahagia

Ada banyak alasan untuk berbahagia. Salah satunya baru saja menjadi hak kami. Yes, kami baru saja berhasil menjual rumah kami di Antabaru, Bandung Timur. Terima kasih, Tuhan. Jadi, kami memiliki cukup alasan untuk membuka botol wine yang kami peroleh 3 tahun yang lalu, dari Prof. Leon Janssen, Rijksuniversiteit Groningen ketika beliau datang berkunjung ke Indonesia. Henkel Trocken kami nikmati, dan berharap agar semua tetek-bengek persoalan jual-beli ini dapat beres secepatnya.

Rileks!

Kadang kala, jika aku merasa lelah, aku memilih tidur untuk menyegarkan kembali pikiranku. Tapi akhir-akhir ini, jika aku merasa bahwa aku menginginkan sedikit refresher, aku sering kali lari ke kebunku, menyibukkan diriku di sana hingga perasaan tegangku hilang. Aku merasa nyaman ketika aku mulai memotong rumput, atau mengaduk-aduk reaktor kompos yang sengaja aku bangun untuk menampung sampah organik hasil dapurku.
Akhir-akhir ini, kegiatan berkebunku bertambah dengan semakin cepatnya rumput di kebunku tumbuh akibat musim hujan. Berkebun adalah salah satu kegiatanku yang tidak pernah aku lewatkan. Kegiatan ini memberikan energi di saat-saat dibutuhkan. Menyenangkan. Tetapi terkadang aku menjadi heran sendiri, karena dahulu aku tidak pernah berpikir bahwa berkebun akan menjadi salah satu kegiatan favoritku :-). Wondering? Ini ada beberapa konsep tentang kegiatan berkebun:

Tuesday, May 20, 2008

All in Green



All in green went my love riding
on a great horse of gold
into the silver dawn.
Four lean hounds crouched low and smiling
the merry deer ran before.


Fleeter be they than dappled dreams
the swift red deer
the red rare deer.
Four red roebuck at a white water
the cruel bugle sang before.


Horn at hip went my love riding
riding the echo down
into the silver dawn.
Four lean hounds crouched low and smiling
the level meadows ran before.


Softer be they than slippered sleep
the lean lithe deer
the fleet flown deer.
Four fleet does at a gold valley
the famished arrow sang before.


Bow at belt went my love riding
riding the mountain down
into the silver dawn.
Four lean hounds crouched low and smiling
the sheer peaks ran before.


Paler be they than daunting death
the sleek slim deer
the tall tense deer.
Four tall stags at the green mountain
the lucky hunter sang before.


All in green went my love riding
on a great horse of gold
into the silver dawn.
Four lean hounds crouched low and smiling
my heart fell dead before.



ee cummings
diambil dari all in green tanpa permisi.

Memperkaya Orang Kaya

Pada pembicaraan Rancangan Pabrik siang kemarin, aku bilang kepada 3 orang mahasiswa bimbinganku bahwa para mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut agar Pemerintah tidak menaikkan harga BBM, pada dasarnya mereka sedang memperkaya orang yang sudah kaya.

Sunday, May 18, 2008

Protes Kenaikan BBM? Lho kok?

Maraknya protes tentang rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM membuat suasana politik negeri ini semakin memanas. Tapi tunggu dulu, mungkin aku adalah salah satu dari sedikit sekali kelompok yang sangat setuju dengan rencana itu. Harga BBM harus naik!. Mengapa?

Berikut adalah data yang aku peroleh dari Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja, pakar energi dari Program Studi Teknik Kimia ITB. Pada berbagai kesempatan, beliau sering kali membeberkan data berikut:

Dari APBN 2008:

  • total pendapatan negara adalah 895 triliun rupiah
  • total belanja negara 989,5 triliun rupiah

Apa artinya ini? Kita masih harus ngutang! Lantas, perhatikan data berikut:

  • Dari seluruh anggaran belanja itu, jumlah yang akan digunakan untuk mensubsidi energi adalah 187,1 triliun rupiah! Ini berarti hampir 20% dari total belanja negara! Masih enggak kebayang juga?
  • Padahal, anggaran untuk pendidikan hanya 45,3 triliun rupiah. Jumlah ini cuman 4,5% dari anggaran belanja!
  • Yang menyedihkan, anggaran RISTEK hanya 0,47 triliun rupiah, alias 0,05% dari angaran belanja.

Padahal data di atas disusun ketika harga minyak mentah dunia masih sekitar $100/barrel. Dan sudah jelas, jelas sekali, jika subsidi sebesar ini terus dipertahankan negara ini tidak lama lagi akan bangkrut! Apalagi ketika harga minyak mentah saat ini telah menembus $127/barrel!. Jika sebagian besar anggaran belanja negara disalurkan untuk mensubsidi energi, negara ini akan menjadi semakin miskin! Dan yang paling penting, ketidak-adilan akan menjadi semakin nyata, karena sebagian (sangat) besar subsidi itu akan dinikmati oleh orang kaya. Jadi aku khawatir, bahwa demo dan protes menentang kenaikkan BBM itu hanya didasari hal yang tidak tulus; ignoransi, politik, atau kepentingan ekonomi yang sangat besar.

Saat ini, yang harus dipikirkan adalah, bagaimana cara menaikkan pendapatan rakyat miskin. That's all! Hanya itu.

Monday, June 25, 2007

Marah

Sejak 2 bulan yang lalu, saya memang sedang super sibuk. Proposal yang harus dimasukkan pada tanggal 29 bulan yang akan datang, masih terus digodok. Pertarungan antar ego dan tanggung-jawab merupaka menu tim sehari-hari. Tekanan dari kiri-kanan sudah tak tertahankan lagi. Padahal, masih banyak tugas rutin yang harus saya perhatikan, termasuk tugas-tugas dari pimpinan departemen saya, atau sebagai anggota satgas dari berbagai platform. Tekanan besard atang secara tiba-tiba ketika komitmen beberapa unit dipertanyakan, padahal deadline semakin dekat. Sodokan-sodokan tak ber-perikemanusiaan terus muncul dan menghantui tidur, ketika saya tiba-tiba harus mengurusi ujian sertifikasi di unit saya. Kepala ini mau meledak, ketika Pak Taruban datang kepada saya, dan komplain bahwa dia tidak punya waktu untuk mengurusi tugas-tugas yangs aya berikan. "Lha, apakahs aya punya waktu??", saya berteriak dalam hati. Saya telah mencoba untuk melakukan pendekatan persuasif dan mencoba untuk menerangkan kondisi yang sama-sama kita hadapi. "Satu gagas, semua gagal!", itu selalu kata-kata yang saya lontarkan, sambil berharap agar Pak Taruban dapat mengerti. Mengerti, bahwa bukan hanya beliau yang harus berkorban, tetapi kita semua.
Muka saya merah padam, ketika beliau berkata kepada saya, "Dedikasi, sih dedikasi Pak, tapi saya kan perlu makan, dan saya sudah punya banyak komitmen. Masak, saya harus meninggalkan komitmen saya yang telah saya buat sejak beberapa waktu yang lalu? Yang bener aja, Pak!", celotehnya suatu saat. Saya mencoba untuk menahan diri, dan mengusap dada, "Lha kalau banyak komitmen, kenapa dulu bersedia untuk mengusulkan program pengembangan di proyek ini?", saya ngedumel dalam hati. Menahan marah, tentu.
Kemarin, saya capek sekali. Ketika saya pulang ke rumah, tiba-tiba istri saya marah-marah kepada saya hanya mungkin karena kesalah-pahaman. Saya meledak. Kepala saya pusing, dan urat leher saya menegang. Tangan saya melayang ke arah pintu di dekat saya, dan sekuat tenaga saya memukulkan tinju saya ke pintu. "Dhuuaarrr!!!", pintu meledak. Di ujung mata saya, air mata keluar memercik. Nafas memburu, dan dalam hati saya menangis. Saya merasa sangat sedih, sekaligus malu kepda diri sendiri.
Mungkin saya salah, telah membawa masalah di kantor ke rumah. Tetapi apa yang bisa saya lakukan ketika saya telah berada pada kondisi yang sangat tertekan? Saya hanya bisa menyesal, karena semua energi yang telahs aya kerahkan akhir-akhir ini untuk menahan marah, akhirnya sia-sia. Saya merasa kerdil, bersalah.
Setelah setelah itu, saya mencoba untuk meminta maaf kepada istri saya bahwa saya telah marah seperti itu, sambil menerangkan kepadanya bahwa akhir-akhir ini saya benar-benar merasa tertekan. Saya mohon kepadanya untuk membantu saya sedapat mungkin dengan memberikan dukungannya, pengertiannya.
Moga-moga ia mengerti.-

Saturday, June 23, 2007

Keras Kepala

Bu Indri terpaksa turun tangan menyelaraskan beberapa program yang tak kunjung selesai. Mas Andhar yang sudah sering stress, kembali bisa tersenyum ketika melihat pokok-pokok pikiran yang telah mulai tersusun, setelah Bu Indri mengambil alih beberapa penyusunan latar belakang dan rasionalisasi pengembangan program. Aku mendapat tugas untuk melakukan nurturing pengembangan program pemberdayaan institusi.
Setelah membaca ringkasan permasalahan yang telah dikembangkan oleh Bu Indri, mestinya sih program-program yang telah dikemas secara apik itu bisa come-up dengan mekanisme dan rancangan yang apik. Namun, tidak!
Dik Endang yang bertanggung jawab untuk mengembangkan program itu masih saja terus percaya dengan apa yang dalam kepalanya itu, walaupun secara sporadis dan kolektif, beberapa pendamping pengembang telah menyatakan bahwa apa yang ditulisnya itu salah. Jadi, tadi, sekitar jam 18:00, edisi ke-sekian dari pengembangan program pemberdayaan institusi masuk ke mejaku. Dan, duh!, masih tidak berubah. Jadi, sia-sialah apa yang telah dilakukan oleh Bu Indri yang aku tahu tadi malam tidak tidur sekejappun. Apa yang ada di kepala Dik Endang? Tidak ada yang tahu. Keras kepala.

Thursday, June 21, 2007

Teamwork

Sebuah kerja tengah dilakukan. Kerja besar. Untuk itu, proposal besar tengah dipersiapkan. Setiap personil yang terlibat, berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya. Tidak ada pertanyaan lagi, sebuah komitmen merupakan sebuah keniscayaan.
Tim penulis proposal telah dibentuk. Program besar dalam ranah komunikasi telah disepakati. Beres!
Sosialisasi ke seluruh jajaran eksekutif telah dilakukan. Tim malah telah berhasil menarik WB untuk turun gunung dan memimpin proses penulisan proposal secara formal. Beres!
Namun tidak disangka-sangka, aku melihat potensi destruksi dari sisi yang sama sekali tidak kuduga, teman sendiri. Sebuah tanggung jawab moral lantas dipertanyakan. Pak Maman secara sporadis mengusulkan agar proses pembuatan proposal di-drop saja. Sebaliknya, Bu Indri yang selalu berbicara lembut, masih optimis. Sebuah unit, unit Trans-Light, yang diidentifikasi sebagai penyebab demotivasi anggota penyusun proposal, menjadi bulan-bulanan. Tidak bisa disangkal, memang, bahwa komoditas etika yang satu ini, komitmen, selalu menjadi primadona dalam proses yang melibatkan aktivitas lintas-unit.

teamwork
definition: work done by several associates with each doing a part but all subordinating personal prominence to the efficiency of the whole :: Mirriam-WebsterOn-line

Friday, June 08, 2007

Lebih Baik Enggak Ngerti!

Sebuah kerja besar di bidang intensifikasi energi di organisasi ini sedang disusun. Kerja ini akan melibatkan aspek finansial yang tidak besar-besar amat, namun aspek perbaikan organisasi dan pola pikir kolektif yang signifikan akan terjadi. Benar, duit yang terlibat tidak besar, karena walaupun secara keseluruhan terlihat besar, 8M(!), namun karena jumlah unit yang terlibat banyak, jadi setiap unit hanya mendapatkan jatah yang cukup untuk menjalankan program-program non-reguler seadanya. Sehingga komitmen para pelaku organisasi ini sangat dituntut agar seluruh program yang direncanakan dapat berjalan dengan baik (dan benar).

Kerja besar direncanakan. Dan, sejak sekarang, sebuah kesibukan yang luar biasa telah terbayang di setiap kepala personil yang terlibat. Mas Andhar Bumi yang sibuk leading, selalu kena semprot dari kiri-kanan, oleh orang-orang yang bekerja, karena ritme kerja yang sangat tinggi. Mas Andhar tidak lelah-lelahnya meminta komitmen setiap orang, tidak capeknya menggedor setiap pintu untuk menyerahkan laporan evaluasi diri, yang telah menjadi tanggung jawab setiap unit. Aku, sebagai pelapis kedua personil penyusun proposal, mencoba mendukung semampuku, walaupun sering kedodoran kalau sudah bicara soal filosofi pengembangan program dengan Pak Maman Salim. Bahasa-bahasa surgawi lalu lalang di depan hidungku. Bu Indri B. Adriani dengan luwesnya selalu memiliki jalan bagi setiap konflik yang muncul. Bu Padmi Sastro, dengan sense of humornya selalu bisa menghidupkan gairah bekerja setiap personil yang terlibat. Dan beruntung kami memiliki Bu Mien Mandagi yang selalu bisa menengahi, diplomatis, dan membawa suasana damai di antara kami.

Tapi itu semua tidak cukup. Kami semuanya sadar bahwa kerja kami ini tidak akan ada gunanya jika sama sekali tidak ada komitment pimpinan. Maka grilya-pun dimulai. Bu Mien telah mencoba untuk menjembatani tim ini dengan Pak Boss. Sebuah pertemuan romantik-pun terlaksana. Beres, karena Pak Boss mengerti; (minimal telah mencoba untuk mengerti); seluruh pengembangan program yang telah kami bicarakan selama ini. Kami juga telah berhasil melakukan audisi di rapim. Pada prinsipnya, message telah kami sebarkan. Sekarang, terserah bagaimana khalayak menerimanya. Tapi, itupun tidak cukup!

Pak Wakil Boss (WB) bidang Energi hingga sekarang tidak pernah turun gunung untuk turut bergabung. Sejak awal penggodokan proposal ini, hingga sekarang yang nota bene telah berjalan kira-kira 4 bulan, Pak WB belum pernah bergabung dengan kami mendiskusikan dan mencoba mengerti apa yang sedang kami kerjakan. Pernah sih beliau kami undang untuk berdiskusi. Tapi kok susah bener nyambungnya.
Namun, akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan beliau. Treng, bak prajurit yang tidak takut mati, aku, mas Andhar dan Bu Mien menghadap WB di suatu siang yang terik. Mas Andhar dengan gagah perkasanya mempresentasikan program yang sedang dibuat dan dibangun oleh teman-teman. Bu Mien yang bijak, mengangguk-angguk setiap kali Mas Andhar tiba dalam sebuat point penting. Presentasi beres, dan waktu diskusipun tiba.
Kami, sungguh, ternganga dan sedikit malu, ketika tahu bahwa pak WB ternyata tahu seluruh apa yang sedang kita kerjakan. Jangan ditanya soal komitment. Beliau dengan sigap, mengambil dan saat itu juga menyatakan bahwa Kantor WB akan bertanggung jawab atas segala pelaksanaan program ini. Kami benar-benar terperangah. Seluruh prototipe yang selama ini kami bayangkan, hancur lebur dalam seketika. Pak WB selama ini ternyata memang benar-benar sibuk, sehingga memang tidak bisa mengalokasikan waktu untuk kami. Dan saat itu pula, Pak WB berjanji untuk hadir dalam diskusi intern yang akan diselenggarakan pada minggu depan ini. Memang, kalau enggak ngerti, jangan sembangaran mengumbar bacot. Memang, lebih baik enggak ngerti sekalian!

Thursday, May 31, 2007

Pekerjaan Rumah

Seorang temanku bercerita bahwa anaknya saat ini sedang bersekolah di salah satu SMA Swasta di Bandung. Saat ini memang adalah saat-saat anak-anak sekolah mengisi waktunya untuk beraktivitas, sementara guru-guru sibuk memeriksa ujian-ujian. Sebagai seorang guru, aku juga merasakan sebuah dilema, bagaimana membuat para siswa sibuk beraktivitas dengan kegiatan yang menurutku "baik" dan "mendidik". Menurutku, banyak jalan keluar yang bisa diambil, tetapi hanya sedikit yang benar-benar bermanfaat. Celakanya, jalan keluar yang tidak bermanfaat selalu identik dengan jalan keluar termudah dan tidak banyak menyita waktu(ku). Salah satu yang menurutku baik adalah, memberi Pekerjaan Rumah.
Temanku tadi, dengan suara tinggi, tentu, justru protes bahwa anaknya saat ini punya tugas maha berat dari guru-gurunya, menyelesaikan pekerjaan rumah yang tadi kusebutkan di atas. "Lho kok protes?", tanyaku.
"Lha, kalau pekerjaan rumah biasa sih enggak apa-apa.", katanya. "Yang ini luar biasa!", ia melanjutkan. Ia menceritakan bahwa anaknya harus menyelesaikan 700 ratus soal dalam seminggu!
"What?", kataku. "Tujuh ratus soal?", aku meyakinkan diriku bahwa telingaku masih normal-normal saja.
"Benar!", temanku meyakinkanku bahwa memang demikianlah adanya.
Aku lantas terdiam. Yang ada saat itu adalah tanda tanya besar dalam kepalaku. Mau dijadikan apa anak-anak kita oleh guru-guru yang cara berpikirnya sangat irasional seperti itu? Menyelesaikan 700 persoalan dalam seminggu tidak akan membuat anak didik menjadi lebih pintar. Justru sebaliknya. Tugas-tugas bodoh seperti itu hanya membuat anak didik berubah menjadi seorang oportunist murahan yang kelak terdidik menjadi seorang koruptor besar. Gejalanya sudah ada. Lha, temanku lantas bercerita bahwa untuk menyelesaikan 700 soal seperti itu, anak-anak lantas membagi-bagi keseluruh teman-teman sekelas. Si A mengerjalan soal nomor sekian sampai sekian, si B dari sekian sampai sekian, si C dan si D mendapatkan posi yang lain. Akhirnya, amburadul! Benar-benar amburadul dan membuat perasaanku hari ini sangat nelangsa.

Monday, April 23, 2007

Tangan yang Menengadah

Jalan itu penuh dengan pengemis. Sehingga, aku selalu merasa risih untuk memperlihatkan bagian kota itu kepada tamu-tamuku yang mengunjungiku. Jalan Pasteur, namanya. Sebuah jalan protokol, gerbang kota Bandung, yang selalu menjadi pembicaraan orang ketika datang ke Bandung. Jalan Pasteur telah menjadi pilot project kota Bandung dalam hal mengimplementasikan UU K3 yang telah diratifikasi sejak beberapa tahun yang lalu. Mestinya, pengemis-pengemis itu tidak dapat dengan leluasa berkeliaran di sana, seakan-akan menyambut tamu kota Bandung, dan berteriak lantang, "Hai, Selamat Datang di Kota Bandung! Cepek Pak!".
Dilematis memang, memberi atau tidak memberi adalah sebuah pilihan. Ketika tangan menengadah, ada sebuah harapan yang tergambar di sana. Sebuah relik yang tak lekang, karena meminta dan memberi adalah sebuah proses yang sama tuanya dengan sang pertiwi. Masalah kemudian muncul ketika kita dihadapkan pada sebuah tanggung jawab moral untuk melakukan justifikasi pada penegakan pranata sistem dan empati. Sebuah pilihan yang tak henti diperdebatkan, lebih baikkah memberi ataukah tidak.
Namun saya percaya pada ajaran bahwa memberi dengan cuma-cuma hanya akan menciptakan bangsa yang lemah, tidak produktif, dan bermental budak.

Tuesday, March 20, 2007

Kontemplasi

Tidak banyak yang bisa kulihat, ketika tidak ada keinginan untuk itu. Tidak banyak yang dapat kuraih, walau sebenarnya aku telah menetapkan dimensi gerakku. Telunjukku sebenarnya telah dapat menetukan arahnya, kurasakan hal itu. Sering aku mengangguk sendiri, membenarkan isi hatiku. Namun terkadang aku ragu, apakah aku telah berjalan ke arah yang benar, mengikuti arah telunjukku.

Caka yang satu berakhir, yang lain berawal kembali. Saatnya, kurasakan. untuk merenungi itu semua. It's about my determination!, sering aku berteriak. So what? Ya, begitulah, waktu terus berjalan, habis, dan tanpa apa-apa. Namun, sering kali cinta membisikkan kata-katanya kepadaku, "Kau tidak punya waktu untukku!". Itu mungkin benar. Aku sadar bahwa aku termasuk orang yang tidak pernah mau menolak tanggung-jawab yang disodorkan kepadaku. Implikasi yang lantas timbul setelah itu seharusnya kusadari sepenuhnya. Namun kadang-kadang aku lupa untuk berandai-andai. Memang, kadang-kadang aku tidak punya imajinasi, begitu kata cinta.

Aku sempat berpikir, apakah aku memerlukan resolusi ataukah tidak. Karena kembali, telunjukku terus mengarah pada egoku. Kalau berbicara tentang benar atau salah, terkadang aku selalu memandang hal sebagai cinta yang hitam atau putih. Tak ada gradasi warna di sana. Tak ada titi nada sumbang. Yang ada adalah tonggak angkuh yang menunjuk ke arah kepalaku, terang, sempurna. Anehnya, aku selalu menyodorkan gradasi nada pada cinta. Aku tahu hal itu tidak fair. Tapi itulah aku.

Apakah aku memerlukan resolusi tahun baru? Mungkin tidak perlu. Namun aku mungkin tahu, hal itu muncul dalam ranah kesadaranku karena aku sering kali berubah menjadi defensif ketika keadaan membuatku terpojok. Apakah aku memerlukan resolusi tahun baru? Entah!

Yang pasti, aku tahu bahwa aku harus lebih baik di Caka yang akan datang. Pelahan, aku harus mengangkat bintangku dan menempatkannya di tempat yang mudah kulihat, yang pada gilirannya, akan selalu kuingat.

Monday, March 19, 2007

Terganggu

Akhir-akhir ini aku sering kali terganggu oleh hal-hal kecil. Tidak mudah memang untuk mengalokasikan berbagai masalah di kepalaku yang sudah penuh dengan berbagai masalah. Entah, mungkin karena tugas yang berjubel datang kepadaku membuatku seakan meledak. Aku mudah tersinggung, dan terkadang marah tak beralasan.

Akhir-akhir ini, Patricia sering menepuk bahuku, berbisik di telingaku, "Har, kau mudah marah!". Kalau sudah begitu, aku lantas terdiam, dan berusaha berkontemplasi. Tapi tidak mudah. Sering kali egoku muncul, dan mendadak memposisikan diriku sebagai orang tertindas.

Asap pembakaran sampah yang sore tadi memenuhi rumahku membuatku mendidih. Konsentrasiku hilang, padahal aku harus mempersiapkan soal-soal untuk ujian PTK besok. Kugelengkan kepalaku, dan mencoba untuk mengusir rasa amarahku.

Grrrhhh....!

Tuesday, October 03, 2006

Mengajar Monyet


Tidak banyak yang kita bisa dapatkan hanya dengan berusaha seadanya dalam mencoba membuka mata seorang yang telah tertutup hatinya. "Seperti mengajar monyet!", temanku pernah berkata kepadaku. Mengapa? Monyet tidak akan pernah pintar, dan kita hanya akan mendapatkan capeknya saja. Syukur-syukur kalau hanya capek. Bagaimana kalau capek itu disertai dengan naiknya tekanan darah dan mendidihnya ubun-ubun? Weleh!

Hal itu yang aku dengar beberapa waktu yang lalu. Temanku, katakanlah namanya Doug, memiliki tetangga yang sedang membangun rumah di sebelah rumahnya. Awalnya sih tidak terjadi apa-apa. Tetapi ketika rumah tersebut setengah berdiri, barulah Doug menyadari bahwa rumah itu akan menjadi rumah bertingkat yang akan menutupi matahari yang selama ini dapat dinikmatinya sepanjang hari. Lantas ia mendatangi tetangganya, dan bertanya akan hal itu. Apa yang didapatinya? Tetangganya hanya bilang bahwa, "Ini adalah property saya, dan saya bebas melakukan hal apa saja dengan property saya!"
Tidak dapat disangkal lagi, tentu Doug merasa sangat tidak nyaman dengan jawaban yang sangat bersahabat seperti itu. Doug pernah berbicara kepada saya, bahwa ia hanya ingin berdiskusi tentang masalah ini, dan kalau bisa secara bersama-sama melakukan sesuatu sehingga rancangan rumah dapat dimodifikasi sedikit sedemikian rupa sehingga berkah matahari akan diperoleh bersama-sama secara optimal.
kebetulan, istri Doug adalah seorang asing dari Eropa, yang jika hak-haknya dilanggar akan bereaksi dengan keras. Sang istri kemudian berusaha untuk berbicara dengan si tetangga dengan baik-baik. Apa yang diperolehnya? Cacian tak bermalu, "Ini bukan Eropa, ini Indonesia! Pulang kau ke rumahmu!".

Aku yang prihatin, hanya bisa menyabarkan Doug dengan membeikan jurus "monyet" tadi. Mengajar monyet untuk berdiskusi memang tidak mudah.

Thursday, April 13, 2006

Taksi oh Taksi

Simak sebuah artikel tentang bagaimana pengemudi taksi Bandung menunjukkan betapa tidak profesionalnya dan sangan kekanak-kanakannya mereka. Aku hanya berpikir:

  • Di mana hakku sebagai pengguna taksi yang menginginkan kenyamanan di Bandung?
  • Masih haruskah aku terus menarik urat leher dengan para pengemudi taksi yang semena-mena menetapkan tarif?
  • Masih haruskah aku terus berdebat dengan para pengemudi taksi agar mereka mau menggunakan argometer?
  • Masih haruskah aku terus was-was apakah taksiku datang menjemputku?

Sebelum Blue Bird datang ke Bandung, sudah bukan rahasia lagi bahwa pelayanan taksi Bandung adalah pelayanan amburadul yang sangat menjengkelkan hati. Hatiku geram ketika melihat sepenggal berita:

Blue Bird dirusak
Dihubungi secara terpisah, General Manager Blue Bird Bandung, Adjat Sudradjat, mengatakan, dua armada taksi BB yang terjebak dalam aksi demo di Jln. Padjadjaran dan Jln. Asia Afrika, dirusak massa. Akibatnya, taksi dengan nomor unit UD 178 dan UD 150, mengalami kerusakan. “Kaca belakang dan depan pecah, bodinya juga rusak. Tapi sopir kami tidak apa-apa,” katanya. Kejadian tersebut, menurut Adjat, telah dilaporkan ke Polwiltabes Bandung dan saat ini tengah diproses. Kendati demikian, BB masih tetap beroperasi seperti biasa. (A-157/A-159)***


Kapan para pengemudi taksi dan para pengusaha taksi di Bandung bisa lebih profesional? Entah!

Sunday, January 01, 2006

Manusia Pengecut

Tahun 2006 telah datang. Namun keprihatinan menghiasi pergantian tahun kali ini. Masih saja manusia-manusia pengecut mencoba memperlihatkan pada dunia bahwa mereka punya sesuatu. Kenyataannya, rasa muaklah yang dituai. Rasa muak itu bahkan naik ke ubun-ubunku, rasa muak itu bahkan menjelma menjadi kutuk yang keluar dari bibirku, rasa muak itu mengisi seluruh sendi dan sumsum tulangku.

Tidak ada manusia beriman yang menaruh jiwa insan Tuhan di ujung teror atas nama Tuhan.

Saturday, December 31, 2005

Bom Lagi

Pagi ini, sebuah bom berkekuatan cukup tinggi meledak di Poso - Palu. Lebih 40 orang luka berat, dan banyak yang meninggal. Bom ini meledak di sebuah tempat penjualan daging babi dan daging anjing. Sementara itu, beberapa bom tidak meledak di Pematangsiantar dan Lampung (di rumah Ketua DPRD) dan Kendari. Apa artinya ini? BIN dan pihak kepolisian kebobolan lagi? Duh!

Para teroris pengecut masih terus mencoba untuk mengacak-acak Indonesia. Yang menyedihkan, masih saja ada orang Indonesia sendiri yang mencoba untuk membunuh saudaranya sendiri hanya karena perbedaan ideologi dan paham primodialisme sempit. Ingin sekali aku melihat muka mereka jika ada salah satu sanak keluarga mereka yang juga menjadi korban. Ingin sekali.

Update:

  • Kapolri: Tahun 2006 masih rawan bom.
  • Palu diguncang bom.
  • Ledakan di Palu tewaskan 8 orang.
  • Indonesia bomb leaves eight dead.
  • Ny. Yoppie tewas seketika.
  • Bus Palu - Poso dibom.
  • Korban bom Palu bertambah!
  • Sejumlah besar bom siap ledak ditemukan di Kendari.
  • Bom ditemukan di rumah Ketua DPRD Lampung.
  • SBY menginstruksikan Jajaran Polkam untuk mengusut insiden ini.
  • Pelaku bom Poso bukan kelompok Noordin M. Top?
  • Mirip bom Tentena.
  • Data lengkap korban bom Palu.
  • Tim forensik olah TKP di Palu.
  • Ingin merusak citra SBY?
  • Polisi tutup semua pintu keluar Palu.
  • Pelaku bom Palu teridentifikasi.
  • Kota Palu dalam penjagaan ekstra ketat.
  • Aksi-aksi teror di Indonesia.
  • Bom Palu dibawa dengan mobil.
  • Pola pengamanan Palu perlu perhatian khusus.
  • Pemerintah berikan perhatian khusus untuk SulTeng.
  • Pertanda buruk di tahun 2006?
  • Wapres tak mau spekulasi.
  • Sumatera Utara Siaga I.
  • Tiga daerah terteror.
  • Widodo: Perlu gugus tugas untuk bom Palu.
  • Kapolri mendadak kunjungi Palu.
  • Polisi Telah Identifikasi Pelaku Bom Palu.
  • BIN dinilai lupakan daerah konflik.
  • Pertokoan di Palu tutup.
  • Tim gabungan Polri kumpulkan serpihan bom.
  • Seorang ditahan terkait bom Palu.
  • M ditangkap dan diinterogasi.
  • Beberapa korban bom Palu masih dirawat.
  • Kapolri: segera ungkap pelaku bom Palu.
  •