Friday, April 01, 2005

Mawas Diri Manusia Kita

Image hosted by Photobucket.comBeberapa hari setelah gempa besar di pantai Barat Sumatra dan Nias, masih saja terdapat kendala-kendala prinsip yang menghalangi mengalirnya bantuan ke daerah bencana. Hal ini sangat mencengangkan, terlebih jika mengingat bahwa Indonesia baru saja dilanda bencana sangat besar di Aceh pada pergantian tahun 2004-2005 ini. Apakah bangsa ini tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah ada? Apakah bangsa ini tidak pernah berbenah? Apakah bangsa ini bangsa yang tidak pernah mau maju, walaupun itu hanya selangkah?

Seribu pertanyaan semacam itu tentu hinggap di segenap insan Indonesia ketika mendengar berita-berita menjengkelkan seperti, tidak ada satupun organisasi Indonesia yang berusaha masuk ke Nias pada hari ketiga setelah bencana. Hal itu sangat kontras ketika aku melihat televisi semalam bahwa ada satu tim dokter dan perawat Australia yang terdiri dari tidak lebih dari 7-8 orang, yang dalam sehari kemarin telah merawat lebih dari 80 orang di Nias. Kemana orang-orang Indonesia yang menyebut dirinya orang yang peduli terhadap orang lain? Kemana rasa persaudaraan orang Indonesia, yang selalu bangga akan azas gotong royongnya?

Mungkin akupun tidak boleh bertanya hal ini, karena hingga kini aku masih berada di Bandung. Mungkin aku tidak boleh bersuara seperti ini, karena hingga kinipun aku belum memiliki tekad untuk berangkat dengan sukarela ke sana. Mungkin akupun harus segera emlakukan introspeksi diri ketika seorang Anwar Nasution mengatakan bahwa kemampuan organisasi Indonesia sangat amburadul dalam menangani bencana seperti ini. SBY-pun berkata, bahwa teladan dari pemimpin bangsa masih belum bsia dibanggakan, karena pada saat bencana banyak pemimpin daerah justru tidak berada di tempat.

Tuhan, aku tahun azab ini Kau berikan untuk memperingati kami semua.

No comments: